Memoirs of Geisha
Sunday, January 22nd, 2006Selasa , 17 Januari 2006 …
Pulang workshop di Intercon diculik Hubby…
Asik, ga usah balik kantor…
Pingin nonton Memoirs of Geisha yang sudah ditunggu, ditunggu, dan ditunggu dengan berdebar dan penasaran… (penasaran aja ding, ga sampe berdebar…heheh…)
Telp Setiabudi 1, asik (lagi) masih keburu yang main jam 14:55…
Film itu memang indah…. kostum indah (whuaaa…kimono2 nya edan!!) , scene indah, make up indah…
Terus terang jadi terpesona dengan keindahan , pernak pernik, cantiknya Hatsumoto, tarian, shimasen, dan sebagainya…
Dengan referensi dari novel nya yang sudah khatam kubaca beberapa bulan lalu, terus terang jadi dag dig dug menunggu…kapan emosi ini dibawa "naik turun"…
Dan ga tau kenapa…sampai ending terasa flat berat…
Padahal berharap ada sedikit titik airmata …hahaha…Ternyata sampai terakhir tetep sama: dingin dan flat…
Kenapa ya…?
Begitu susahnya memindahkan emosi2 dari sebuah novel utk divisualkan dalam film…Kaya emosinya ga kebawa…
Apalagi ending nya yang holliwood banget… sinetron banget…
Harusnya ciuman n pelukan antara The Chairman dengan Sayuri bisa lebih syahdu, romatic, …kalo perlu yang sampe bikin ati ini perih kaya tersayat - sayat (plus ditetesin jeruk nipis…heheh..maaf, ini terinspirasi dari kalimat seorang teman yang menurutku cukup sadis…)
Trus harusnya kalimat2 di ending itu dibuat yang lebih gimana…
Yang menggambarkan perasaan seorang Chairman yang harus sekian lama menunggu memendam rasa..(damn!! saya paling gemes dengan orang yang suka/cinta tapi memendam rasa…. )
Dan Sayuri yang juga menunggu…
Mmmm, however…saya pun mungkin bisa jatuh cinta dengan Ken Watanabe…hahaha….he’s charming…karismatik… dengan kerut2 di ujung matanya bikin dia jadi "komplit"…
Tapi Nobu juga keren di mata saya..cool…dingin…ga ketebak..dan dia sangat2 baik…(ke Sayuri khususnya…)
Untuk peran2 Geisha2 nya memang cocok..
Pumpkin memang tidak cantik….di novel digambarkan lebih " dramatis" lidahnya selalu menjulur sedikit, lehernya dimaju2in kaya kura2, pipinya tembem…
Hatsumoto digambarkan memang sangat2 cantik..The Goddest… Dan memang di film itu Hatsumoto sangat2 cantik, dan kejam, dan culas…dan…sexy…!
Please lihat di bagian leher belakang pakaian kimono mereka…Yang agak diturunkan…Leher, tulang2 belakang, dengan sapuan "cat putih" yang sengaja dibuat sedikit menampakkan warna kulit asli…It seems to be very sexy…
Mameha digambarkan kecantikannya tidak se"menyolok mata" Hatsumoto…Tp dia elegan…Iya lhoh, di film itu pun Mameha sangat elegan, tidak menor, kecantikan yang "mahal" dari dalam hati…
Kalo Sayuri memang digambarkan sebenarnya tidak terlalu cantik (jelita)…tapi memang matanya indah… Abu2 kebiruan..Aneh untuk standar Jepang… Tapi Sayuri secara keseluruhan memang "cantik"…Pas…ga kelebihan…ga kekurangan…
Ya sudahlah…filmnya bagus…Biarpun ga istimewa… Ga terlalu "meninggalkan kesan" ….ga jadi setelahnya bikin "mikir" dan pingin ngebahas dan ngebahas …
Hubby pun punya pendapat sama..Terutama kecewa ma endingnya yang "sinetron" sekali..
Harusnya ciuman mereka lebih dasyat!! hahahah..Ciuman orang yang sudah menunggu sekian tahun dengan perasaan yang sudah dipendam begitu susahnya dan sekian lama…mosok "segitu aja"…
Kalah ma ciuman Rangga dan Cinta di A2DC…hihihihi…:p
Sekarang saya lagi baca Norwegian Wood nya Haruki Murakami..
Lumayan lah..buat pengantar tidur…
Untuk film dan novel…saya selalu mengharapkan ending yang bisa mengaduk2 perasaan…
Ukurannya, kalo tidak ada air mata menetes…saya bisa jadi kecewa….hehhehe…
Tapi tetap ada adegan yang paling berkesan: saat Sayuri menari…. solo dance…make up…tarian..ekspresi…. Keren!! (walopun kata hubby…kok jadi kaya kuntilanak..ga sexy ah!) …Pantes bikin semua di film itu (dan saya) nahan napas…and please…notice ekspresinya The Chairman yang "sedih" dan berusaha memalingkan muka… So sad…:(
*09:10 AM Menjelang Sales Meeting yang membosankan…*